TULISAN
3 EKONOMI KOPERASI
PERNIKAHAN
: KURANGI ‘PROVOKASI’ PERBANYAK EDUKASI
Nama :
Muhammad Fadhilah Abdussalam
NPM :
14215552
Kelas :
3EA19
Mata Kuliah :
Ekonomi Koperasi
Dosen :
Pak Sudaryono
“Pak,
saya mau tanya, ini ada ustadz yang menikah tapi kok baru beberapa bulan sudah
bercerai? Bagaimana ini?” itu salah satu pertanyaan yang datang dari peserta
akhwat #YukNgaji Kajian Pranikah akhir Desember tahun lalu. Saya sudah menduga
akan ada pertanyaan semacam itu. Berita perceraian seorang ustadz muda yang
kondang dengan istrinya jadi konsumsi berita gosip di akhir tahun kemarin.
Keduanya sama-sama masih muda, luar biasa, tapi kemudian pernikahan mereka
kandas hanya seumur jagung.
Saya
tak akan cerita soal perceraian mereka ya, karena bagaimanapun juga itu adalah
musibah. Mereka berdua juga tentu tak pernah berharap hal itu akan terjadi.
Perceraian itu menyakitkan, apalagi bila kemudian menjadi konsumsi publik.
Subhanallah!
Peristiwa
tersebut semoga menjadi ibroh bagi kaum muda yang akan menikah, agar tidak
tergesa-gesa, persiapkan diri sebaik mungkin, dan selalu jadi pribadi
pembelajar. Bahwa pernikahan pasangan yang menikah harus belajar menghadapi
persoalan kehidupan. Belajar mengelola emosi, dan terutama belajar hukum syara’
tentang pernikahan.
Bagi
saya, yang sering diminta bantuan mengisi kajian-kajian pernikahan, hal ini
adalah warning agar berhat-hati dalam menyampaikan tema pernikahan, terutama
untuk kaum muda. Keliru berbicara, kajian pernikahan justru menjadi ajang
‘provokasi’ bukan edukasi. Ada beda antara keduanya, bagian yang pertama itu
‘manasi’ orang untuk segera menikah, kalau yang kedua mengedukasi orang agar
cerdas dalam menikah dan menikah dengan cerdas. Untuk itu ada beberapa hal yang
harus menurut saya harus kita lakukan bersama saat mengedukasi anak-anak muda
dalam soal pernikahan:
1. BUAT
CERDAS. Amat penting bagi para penulis, trainer, motivator atau siapa saja
untuk mencerdaskan anak-anak muda dalam soal pernikahan agar mereka dapat
menikah dengan cara yang cerdas. Maksud cerdas di sini adalah paham seluk beluk
pernikahan, hukum syara seputar pernikahan, dan bisa mengelola konflik bersama
pasangan.
Kalau hanya sekedar
bicara romantisme menikah, tidak perlu jadi motivator, trainer apalagi jadi
ustadz, penulis roman picisan juga bisa. Malah anak sekolah juga sudah pinter
ngomong soal romantis. Tugas para pembicara jauh lebih berbobot; selain
mendorong kaum muda untuk menikah tapi juga harus membuat mereka pandai menata
rumah tangga.
2. BUKAN
HANYA ROMANTISME.Jangan hanya cerita soal romantisme Rasulullah pada istri-istri
Beliau, tapi sampaikan juga bahwa di antara mereka juga pernah terjadi
persoalan sampai Allah menurunkan beberapa ayat seperti QS. At-Tahrim: 1 atau
al-Ahzab: 28. Atau bagaimana Ummul Mukminin Aisyah ra. terkena fitnah keji dari
kaum munafik sehingga sempat membuat limbung rumah tangga Nabi.
Tidak keliru sih kalau penulis, pembicara,
motivator, atau ustadz sekalipun memilih tema romantisme rumah tangga Nabi
ketimbang praharanya. Mungkin maksud mereka ingin membuat kaum muda yang tengah
galau untuk menikah agar tidak takut dan bergegas menikah. Namun bila porsi itu
dibesarkan, kita khawatir anak-anak muda ini menjadi kelewat mellow dan tak
sanggup menata konflik pernikahan. Begitu ketemu masalah yang muncul emosi dan
depresi. Pernah nggak mereka diceritakan pasangan yang beberapa hari nggak
makan karena nggak punya uang? Atau suami yang harus tidur di teras rumah
karena sang istri ngambek? Atau istri yang nangis tiap malam karena suaminya
nggak ngerti-ngerti perasaannya? Sesekali share atau cerita yang model begini
agar kawula muda juga paham kalau pernikahan itu bukan hanya cool tapi cold
alias bikin dingin hati.
3. BATASI
KISAH PRIBADI. Kebiasaan dan kesenangan beberapa pembicara, motivator, penulis
juga ustadz sekalipun, menceritakan pengalaman pribadi kepada jamaah kawula
muda. Maksudnya jelas, untuk menjadi pelajaran.
Salahkah ini? Nggak lah. Boleh saja.
Pengalaman seseorang itu kadangkala bisa menjadi inspirasi kebaikan. Namun
perlu diingat kasus setiap orang tidaklah sama dan resultan yang dihasilkan
juga sering tak sama. Mungkin ada ikhwan yang begitu melamar akhwat langsung
diterima dan jebret langsung dinikahkan oleh bapak tuh akhwat, bahkan dikasih
modal dan dikasih rumah.
Tapi kan nggak semua ikhwan mengalami
seperti itu. Ada yang ditolak berkali-kali, ada juga yang diterima tapi dengan
syarat bermacam-macam. Sampai nyaris desperate melobi calon mertua.
Terus perlu diingat, pengalaman pribadi
bukan dalil syara’. Itu asli hanya pengalaman pribadi. Dalil syara ya cuma
empat; kitabullah, sunnah, ijma sahabat dan qiyas. Ini yang harus terus digali
oleh para penulis, trainer, motivator dan ustadz untuk diambil hikmah dan
hukumnya. Kalau mau ditambah, tambahlah kisah orang-orang saleh dalam
al-Qur’an; ada kisah Nabi Luth dan Nabi Nuh, ada keluarga Imran, keluarga
Ibrahim, dari para sahabat dan ulama salafus saleh yang insya Allah memang
teruji kesalehan mereka.
4. PERNIKAHAN
ITU PROSES. Pahamkan pada jamaah dan siapa saja, khususnya kawula muda, bahwa
pernikahan itu berproses seiring jalannya waktu dan keadaan. Tahun pertama,
kedua, dst., selalu membutuhkan ilmu-ilmu baru. Begitupula saat punya anak akan
berbeda dengan masih berdua, dst.
Jadi, pernikahan itu bukanlah resultan
alias hasil, tapi sekali lagi, proses dan proses. Bila ingin proses itu
berjalan baik maka harus dibarengi dengan ilmu dan kesabaran.
5. AJARKAN
PRIBADI ISLAM. Sabar, syukur, maaf memaafkan, qonaah, dll., adalah hal yang
harus menjadi habit pasangan dalam pernikahan. Dengan begitu setiap persoalan
dapat disikapi dengan akhlakul karimah.
Terakhir tapi amat penting, buat jamaah terikat dengan
hukum syara’ karena di sanalah kebahagiaan dan persoalan dapat teratasi. Hukum
tentang nusyuz, nafkah, berbakti pada orang tua, pengasuhan anak, dll.,
Sudah
saatnya bahasan soal nikah nggak melulu romantisme seperti yang sering dibahas
anak-anak muda hari ini. Kurangi obrolan bikin para jomblo makin baper dan kian
kebelet untuk segera married. Misalnya; truk aja punya gandengan, masak kamu
nggak! Gimana nggak makin pusing tuh kepala.
Membangun
positif thinking tentang pernikahan itu harus dan bagus, tapi membuat para
jomblo lalai dari sedia payung sebelum hujan, itu namanya gegabah. Saatnya para
penulis, trainer, motivator dan para ustadz mencerdaskan kawula muda soal
pernikahan, agar mereka cerdas saat bicara pernikahan dan menikah secara
cerdas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar