Kamis, 05 Oktober 2017

TULISAN 1 EKONOMI KOPERASI : KONSEP KAPITALISME TENTANG ASAS EKONOMI

KONSEP KAPITALISME TENTANG ASAS EKONOMI

Nama                    : Muhammad Fadhilah Abdussalam
NPM                      : 14215552
Kelas                     : 3EA19
Mata Kuliah        : Ekonomi Koperasi
Dosen                   : Pak Sudaryono

                Kapitalisme telah mencampuradukkan konsep ekonomi dua persoalan yang sebenarnya berbeda, yakni system ekonomi dan ilmu ekonomi. Akibat dari pencampuradukkan ini kapitalisme telah salah meletakkan asas yang harus dijadikan sebagai landasan ekonominya. Kapitalisme telah menempatkan pertumbuhan pendapatan nasional sebagai asas ekonominya, yang dicirikan dengan bertambahnya komoditi, jasa dan barang-barang, yang digunakan untuk melayani manusia dan memuaskan kebutuhan nalurinya, serta merealisasikan kemakmuran baginya.
                
Perbedaan antara ilmu ekonomi dengan sistem ekonomi adalah, bahwa ilmu ekonomi membahas mengenai tatacara menambah (mengembangkan) sumber (alat pemuas) yang layak untuk memuaskan kebutuhan dan naluri manusia; sedangkan system ekonomi adlah system yang menentukan tatacara ditribusi sumber-sumber tersebut pada manusia. Pencampuradukkan kedua persoalan itu telah mengakibatkan timbulnya keraguan dan kekacauan. Ilmu ekonomi boleh diadopsi darimana pun asalnya, dan tidak akan berakibat pada kekacauan dan ketidakharmonisan; sedangkan sistem ekonomi tidak boleh diadopsi keculai berasal dari ideologi itu sendiri. Artinya, ideologilah yang bertanggungjawab untuk memecahkan maslah perekonomian, memenuhi kebutuhan dan naluri manusia melalui pendistribusian sarana-sarana tersebut bagi seluruh manusia dengan cara yang shahih.
                
Kapitalisme telah menempatkan petumbuhan pendapatan nasional sebagai asas ekonominya. Ini didasarkan pada persepsinya yang aslah atas realita sumber-sumber pemuas yang ada di masyarakat. Kesalahan ini tampak tatkala ia menyatakan konsep tentang “kelangkaan relatif”. Kelangkaan relatif bermakna tidak mencukupinya barang dan jasa yang ada karena adanya pertambahan jumlah penduduk secara relatif.
                
Sarana-sarana pemuas yang ada di masyarakat –sebgaimana dikatakan Thomas Robert Malthus dalam bukunya “Penelitian terhadap Penduduk”- akan bertambah secara berturut-turut sesuai dengan deret bilangan 1, 2, 3, 4, … sementara jumlah penduduk bertambah dengan mengikuti deret bilangan 1, 2, 4, 8, 16, 32, ….
                
Dari sinilah lahir teori kelangkaan relatif. Berdasarkan teori ini para penganut kapitalisme memahami bahwa permasalahan ekonomi itu diakibatkan oleh buruknya produksi. Penyebabnya karena kebutuhan manusia –berdasarkan pemahaman mereka- lebih banyak daripada sarana pemuas yang tersedia. Persepsi seperti ini jelas keliru, Karena ia tidak bisa membedakan antara al-hajat al asasiyah (kebutuhan primer) manusia yang keberadaannya pada setiap orang menjadi sebuah kepastian sehingga ketidak-adaanya bisa menyebabkan kebinasaan, dengan al-hajat al-kamaliyah (kebutuhan sekunder) yang ketidak-adaannya hanya menyebabkan kesempitan saja. Implikasi dari pandangan yang keliru ini, mereka malah memikirkan cara pemenuhan seluruh kebutuhan bagi individu-individu secara umum –dan ini menjadi sebuah kemustahilan- daripada memusatkan perhatian pada kebutuhan primer bagi setiap orang. Inilah yang menimbulkan adanya dongengan tentang ‘kelangkaan relatif’, dan kemudian memunculkan dongeng lain tentang pertumbuhan pendapatan nasional.
                
Pertumbuhan pendapatan nasional dijadikan oleh kapitalisme sebagai asas ekonominya, dan dianggap sebagai permasalahan pokok yang jika berhasil dipecahkan bisa membawa pada pemecahan dalam masalah ekonomi. Hal itu bisa dijelaskan dengan perumpamaan sebagai berikut: seandainya kita tetapkan ada sebuah masyarakat yang jumlah penduduknya satu juta orang. Setiap orang membutuhkan satu kilogram beras setiap harinya. Berarti negara harus menyediakan satu juta kilogram beras setiap hari. Dengan cara seperti ini negara telah memenuhi kebutuhan penduduknya, tetapi jika tidak, maka negara harus berupaya menambah pendapatan nasional berupa beras agar kuantitas tersebut terpenuhi. Perumpamaan sederhana ini menjelaskan teori mengenai pertumbuhan pendapatan nasional. Teori ini tidak membahas kebutuhan setiap individu, tetapi membahas seluruh kebutuhan negeri,  akibatnya tatkala negara mengeluarkan beras dengan kuantitas tersebut ke pasar, negara menganggap telah berhasil memecahkan malah tadi, padahal realitanya tidak begitu. Alih-alih negara mengawasi sampainya beras tersebut kepada setiap individu bangsa, dimana setiap individu memperoleh beras dengan jumlah yang bisa mencukupi kebutuhannya, malahan negara mengawasi hubungan antara jumlah penduduk dengan kuantitas barang yang harus dilempar ke pasar. Yang berhasil memperoleh beras tersebut hanya segelintir orang-orang kaya yang memperoleh bagian terbesar dari kuantitas tersebut, sedangkan orang fakir tidak mendapatkannya kecuali sedikit saja, bahkan boleh jadi sebagian besar orang fakir tersebut tidak memperoleh barang kebutuhannya sama sekali.
                
Oleh karena itu pencampuradukkan antara ilmu ekonomi dengan sistem ekonomi tidak perlu ada. Yang penting hendaknya sumber dan sarana pemuas kebutuhan masyarakat tersebut diteliti terlebih dahulu, kekayaan dan sarana-sarana pemuas yang terpenuhi didistribusikan pada penduduk secara adil. Setiap penduduk akan memperoleh bagian yang memang diperuntukkan bagi setiap penduduk secara individu, agar kebutuhan primer setiap orang bisa terpenuhi. Setelah itu barulah mencari pertambahan kekayaan dan mendistribusikannya kembali, begitu seterusnya, hingga pemenuhan kebutuhan primer setiap individu masyarakat berhasil dilakukan. Kemudian beraktivitas untuk menambah kekayaan melalui ilmu ekonomi, dan mengembalikan distribusi pertambahan tersebut dalam rangka pemenuhan setiap individu masyarakat.
               
  Berdasarkan hal ini tampak jelas bahwa menempatkan pertumbuhan pendapatan nasional sebagai asas ekonomi dan menganggap kelangkaan relatif sebagai masalah ekonomi, ditambah lagi perhatian yang dicurahkan terhadap aspek produksi melebihi perhatian yang diberikan pada aspek distribusi, dan perhatian atas seluruh kebutuhan masyarakat dengan mengabaikan perhatian terhadap kebutuhan primer setiap individu, semua itu menjadi bukti atas rusaknya konsep kapitalisme tentang ekonomi.

Referensi :
Athiyat, Ahmad. 1996. “ ‘Jalan Baru Islam’ Studi tentang Transformasi dan Kebangkitan Umat. Bogor. Pustaka Thariqul Izzah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar