KONSEP KAPITALISME
TENTANG ASAS EKONOMI
Nama :
Muhammad Fadhilah Abdussalam
NPM :
14215552
Kelas :
3EA19
Mata Kuliah : Ekonomi Koperasi
Dosen :
Pak Sudaryono
Kapitalisme
telah mencampuradukkan konsep ekonomi dua persoalan yang sebenarnya berbeda,
yakni system ekonomi dan ilmu ekonomi. Akibat dari pencampuradukkan ini
kapitalisme telah salah meletakkan asas yang harus dijadikan sebagai landasan
ekonominya. Kapitalisme telah menempatkan pertumbuhan pendapatan nasional
sebagai asas ekonominya, yang dicirikan dengan bertambahnya komoditi, jasa dan
barang-barang, yang digunakan untuk melayani manusia dan memuaskan kebutuhan
nalurinya, serta merealisasikan kemakmuran baginya.
Perbedaan
antara ilmu ekonomi dengan sistem ekonomi adalah, bahwa ilmu ekonomi membahas
mengenai tatacara menambah (mengembangkan) sumber (alat pemuas) yang layak
untuk memuaskan kebutuhan dan naluri manusia; sedangkan system ekonomi adlah
system yang menentukan tatacara ditribusi sumber-sumber tersebut pada manusia.
Pencampuradukkan kedua persoalan itu telah mengakibatkan timbulnya keraguan dan
kekacauan. Ilmu ekonomi boleh diadopsi darimana pun asalnya, dan tidak akan
berakibat pada kekacauan dan ketidakharmonisan; sedangkan sistem ekonomi tidak
boleh diadopsi keculai berasal dari ideologi itu sendiri. Artinya, ideologilah
yang bertanggungjawab untuk memecahkan maslah perekonomian, memenuhi kebutuhan
dan naluri manusia melalui pendistribusian sarana-sarana tersebut bagi seluruh
manusia dengan cara yang shahih.
Kapitalisme
telah menempatkan petumbuhan pendapatan nasional sebagai asas ekonominya. Ini
didasarkan pada persepsinya yang aslah atas realita sumber-sumber pemuas yang
ada di masyarakat. Kesalahan ini tampak tatkala ia menyatakan konsep tentang
“kelangkaan relatif”. Kelangkaan relatif bermakna tidak mencukupinya barang dan
jasa yang ada karena adanya pertambahan jumlah penduduk secara relatif.
Sarana-sarana
pemuas yang ada di masyarakat –sebgaimana dikatakan Thomas Robert Malthus dalam
bukunya “Penelitian terhadap Penduduk”- akan bertambah secara berturut-turut
sesuai dengan deret bilangan 1, 2, 3, 4, … sementara jumlah penduduk bertambah
dengan mengikuti deret bilangan 1, 2, 4, 8, 16, 32, ….
Dari
sinilah lahir teori kelangkaan relatif. Berdasarkan teori ini para penganut
kapitalisme memahami bahwa permasalahan ekonomi itu diakibatkan oleh buruknya
produksi. Penyebabnya karena kebutuhan manusia –berdasarkan pemahaman mereka-
lebih banyak daripada sarana pemuas yang tersedia. Persepsi seperti ini jelas
keliru, Karena ia tidak bisa membedakan antara al-hajat al asasiyah (kebutuhan primer) manusia yang keberadaannya
pada setiap orang menjadi sebuah kepastian sehingga ketidak-adaanya bisa
menyebabkan kebinasaan, dengan al-hajat
al-kamaliyah (kebutuhan sekunder) yang ketidak-adaannya hanya menyebabkan
kesempitan saja. Implikasi dari pandangan yang keliru ini, mereka malah
memikirkan cara pemenuhan seluruh kebutuhan bagi individu-individu secara umum
–dan ini menjadi sebuah kemustahilan- daripada memusatkan perhatian pada
kebutuhan primer bagi setiap orang. Inilah yang menimbulkan adanya dongengan
tentang ‘kelangkaan relatif’, dan kemudian memunculkan dongeng lain tentang
pertumbuhan pendapatan nasional.
Pertumbuhan
pendapatan nasional dijadikan oleh kapitalisme sebagai asas ekonominya, dan
dianggap sebagai permasalahan pokok yang jika berhasil dipecahkan bisa membawa
pada pemecahan dalam masalah ekonomi. Hal itu bisa dijelaskan dengan
perumpamaan sebagai berikut: seandainya kita tetapkan ada sebuah masyarakat
yang jumlah penduduknya satu juta orang. Setiap orang membutuhkan satu kilogram
beras setiap harinya. Berarti negara harus menyediakan satu juta kilogram beras
setiap hari. Dengan cara seperti ini negara telah memenuhi kebutuhan penduduknya,
tetapi jika tidak, maka negara harus berupaya menambah pendapatan nasional
berupa beras agar kuantitas tersebut terpenuhi. Perumpamaan sederhana ini
menjelaskan teori mengenai pertumbuhan pendapatan nasional. Teori ini tidak
membahas kebutuhan setiap individu, tetapi membahas seluruh kebutuhan
negeri, akibatnya tatkala negara
mengeluarkan beras dengan kuantitas tersebut ke pasar, negara menganggap telah
berhasil memecahkan malah tadi, padahal realitanya tidak begitu. Alih-alih
negara mengawasi sampainya beras tersebut kepada setiap individu bangsa, dimana
setiap individu memperoleh beras dengan jumlah yang bisa mencukupi
kebutuhannya, malahan negara mengawasi hubungan antara jumlah penduduk dengan
kuantitas barang yang harus dilempar ke pasar. Yang berhasil memperoleh beras
tersebut hanya segelintir orang-orang kaya yang memperoleh bagian terbesar dari
kuantitas tersebut, sedangkan orang fakir tidak mendapatkannya kecuali sedikit
saja, bahkan boleh jadi sebagian besar orang fakir tersebut tidak memperoleh
barang kebutuhannya sama sekali.
Oleh
karena itu pencampuradukkan antara ilmu ekonomi dengan sistem ekonomi tidak
perlu ada. Yang penting hendaknya sumber dan sarana pemuas kebutuhan masyarakat
tersebut diteliti terlebih dahulu, kekayaan dan sarana-sarana pemuas yang
terpenuhi didistribusikan pada penduduk secara adil. Setiap penduduk akan
memperoleh bagian yang memang diperuntukkan bagi setiap penduduk secara
individu, agar kebutuhan primer setiap orang bisa terpenuhi. Setelah itu
barulah mencari pertambahan kekayaan dan mendistribusikannya kembali, begitu
seterusnya, hingga pemenuhan kebutuhan primer setiap individu masyarakat
berhasil dilakukan. Kemudian beraktivitas untuk menambah kekayaan melalui ilmu
ekonomi, dan mengembalikan distribusi pertambahan tersebut dalam rangka
pemenuhan setiap individu masyarakat.
Berdasarkan
hal ini tampak jelas bahwa menempatkan pertumbuhan pendapatan nasional sebagai
asas ekonomi dan menganggap kelangkaan relatif sebagai masalah ekonomi,
ditambah lagi perhatian yang dicurahkan terhadap aspek produksi melebihi
perhatian yang diberikan pada aspek distribusi, dan perhatian atas seluruh
kebutuhan masyarakat dengan mengabaikan perhatian terhadap kebutuhan primer
setiap individu, semua itu menjadi bukti atas rusaknya konsep kapitalisme
tentang ekonomi.
Referensi :
Athiyat, Ahmad. 1996. “ ‘Jalan
Baru Islam’ Studi tentang Transformasi dan Kebangkitan Umat. Bogor. Pustaka
Thariqul Izzah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar