BEYOND 5-STARS-PRENEUR
Nama : Muhammad Fadhilah Abdussalam
NPM : 14215552
Kelas : 3EA19
Pelajaran : Etika Bisnis #
Dosen : Bu Khoirunnisa Diah Parwitasari
Prof. Dr. Fahmi
Amhar
Bagaimana
menjadi pengusaha sukses, itu sebenarnya sangat sulit ditularkan melalui
pendidikan ataupun training. Kata orang-orang
“sakti”, ilmu pengusaha itu adalah salah satu dari ilmu-ilmu yang tidak bisa
diajarkan, tetapi harus diraih sendiri dengan sebuah “laku prihatin” di “rimba-
ekonomi”. Konon hanya dua dari sepuluh
orang yang melintasi rimba tersebut yang selamat dan hanya satu di antara
seratus mereka yang benar-benar menjadi “sakti”.
Karena itu,
setelah seseorang akhirnya berhasil mengatasi berbagai kesulitan seperti
marketing, memperoleh pemasok, mendapat SDM yang amanah dan kafaah, menjaga
cash-flow, membuat sistem dan lika-liku administrasi lainnya, akhirnya berhak
diberi bintang. Mereka yang akhirnya
usahanya bisa running sendiri, menghasilkan passive-income yang cukup untuk
menghidupi diri dan keluarganya, tanpa dia habis waktu di dalamnya, itu
kecerdasan finansialnya (FQ) sudah di atas 2.
Dia telah terangkat dari sekedar posisi “kemandirian finansial” (FQ=1)
menjadi “kebebasan finansial” (FQ >= 2).
Tetapi bintang yang pantas diberikan baru satu! Dia baru menjadi “1-Star-preneur” – berapapun
omzet atau laba yang diterimanya!
Kenapa? Karena dengan perjalanan waktu, perkembangan
teknologi dan perubahan sosial-politik, apa yang semula tampak bisnis yang
menguntungkan, suatu saat bisa berubah drastis.
Karena itu, seorang pengusaha harus mampu terus menghasilkan
inovasi. Inovasi ini bisa pada jenis
produknya, kualitasnya, kemasannya, bisa pula pada teknik pemasarannya, sasaran
konsumennya, model bisnisnya, dan sebagainya.
Inovasi harus menjadi budaya usaha.
Hanya dengan inovasi ini, perusahaan akan terus berlayar di “samudra
biru”, dan terhindar memasuki arena “samudra merah” yang berdarah-darah. Hanya pengusaha yang inovatiflah yang pantas
mendapat 2 bintang, “2-Stars-preneur”.
Namun inovator
manapun suatu saat akan tua dan mati. Di
negeri ini, masih sedikit usaha yang mampu bertahan hingga generasi
ketiga. Anak-anak pengusaha biasanya
tidak memiliki semangat juang dan passion seperti orang tua mereka. Demikian juga para tokoh-tokoh kunci di usaha
itu. Karena itu merupakan kehebatan
tersendiri bagi pengusaha yang terus menginspirasi orang lain, mulai dari
keluarganya, anak-buahnya, stakeholdernya, sampai orang-orang yang tidak
mengenalnya secara langsung. Mereka
semua terus terinspirasi, bahkan melahirkan pengusaha baru. Inilah pengusaha yang pantas mendapat 3
bintang, “3-Stars-preneur”.
Tadi dikatakan
bahwa terkadang landscape sosial-politik di masa depan bisa berubah drastis,
dan itu mau tak mau akan berpengaruh di dunia usaha. Tak ada yang bisa meramal masa depan, tapi
kita bisa berusaha agar masa depan ada dalam pengaruh kendali kita – setidaknya
sebagiannya. Caranya adalah dengan
mengintegrasikan berbagai aspek dalam dunia bisnis kita. Kita terlibat dalam aktivitas kenegarawanan. Bisnis memang suatu aktivitas ekonomi, tetapi
ikut terlibat dalam upaya agar iklim bisnis di negeri ini ke depan makin
kondusif, itu adalah aktivitas politik.
Karena itu seorang pengusaha harus melek berbagai isu nasional, seperti
isu-isu green-business, isu-isu good-corporate governance, hingga isu-isu
shariah-business. Kalau dia lalu
melakukan pengembangan usaha yang mengintegrasikan ini semua, apalagi
aktivitasnya memang berskala nasional, maka tiba saatnya dia mendapat 4
bintang, “4-Stars-preneur”.
Tapi, yang
namanya dunia kini sudah menjadi desa global.
Krisis finansial di Amerika dan Eropa, ancaman perang di Teluk Persia,
hingga memanasnya semenanjung Korea, cepat atau lambat akan berpengaruh pada
dunia bisnis di tanah air. Memahami
konteks politik internasional kini, dan mengambil sikap sebagai warga negara yang
semestinya independen, akan menjadikan kita pengusaha yang pantas
diperhitungkan di kancah internasional, apalagi bila bisnis kita memang tidak
lagi disekat-sekat oleh batas-batas negara.
Untuk pengusaha seperti ini kita pantas memberikannya 5 bintang,
“5-Stars-preneur”.
Apakah masih
ada yang lebih tinggi lagi? Ternyata
ada!
Seorang yang
telah mendapatkan 5 bintang pun, sedikit banyak masih menjadikan profit atau
pertumbuhan asset sebagai indikator kemajuan usahanya. Fakta juga menunjukkan bahwa baik di Timur
maupun Barat, banyak 5-Stars-preneur yang tidak tergantung pada jenis usaha,
lokasi usaha, agama maupun orientasi politiknya.
Tetapi ada
memang pengusaha yang sedari awal memiliki agenda tertentu. Dia tidak sekedar ingin menjadi pengusaha sukses
dengan keuntungan berlimpah, tetapi dia ingin membawa agenda perubahan yang
mendasar pada masyarakat. Misalnya, dia
ingin melihat masyarakat yang bebas atau demokratis, yang menjadikan selera
publik sebagai acuan tanpa harus “terbelenggu” agama tertentu. Pengusaha yang seperti ini dikatakan
pengusaha yang ideologis – lepas dari soal kita setuju atau tidak dengan
ideologi yang diyakininya. Mereka ini
adalah pengusaha dengan 6 bintang.
Pengusaha kelas dunia seperti John-Rockefeller adalah contoh legendaris
seorang 6-Stars-preneur.
Tetapi di atas
itu masih ada satu tingkatan lagi.
Seorang pengusaha yang tidak hanya menatap dunia yang dapat terlihat
dengan matanya, tetapi juga dunia yang tidak kasat mata. Mereka meyakini apa-apa yang berasal dari
sebuah sumber yang hanya terjangkau dengan iman. Itulah pengusaha muslim sejati. Iman seorang pengusaha muslim mewajibkannya
untuk berpikir rasional dan menjauhi segala syirik dan mitos. Sebagai muslim, dia tidak akan menggunakan
cara-cara irrasional, seperti mengenakan jimat atau percaya kepada hari-hari
baik/sial. Dia semata-mata menggunakan
cara-cara yang ilmiah, sebelum menyerahkan hasilnya kepada Allah swt. Dia tahu bahwa Allah akan memberikan yang
terbaik baginya, mungkin tidak sekarang, mungkin tidak berujud manfaat
material, tetapi juga intelektual, emosional, sosial, dan spiritual. Pada saat yang sama, dia akan memotivasi diri
dengan ajaran-ajaran Islam untuk memberi manfaat kepada orang ramai, juga
terinspirasi oleh berbagai ayat yang akan membuatnya inovatif. Ajaran Islam tentang “amal yang tak terputus
ketika mati” akan mendorongnya untuk memaksimalkan wakaf berbagai fasilitas
umum, berbagi ilmu ke orang banyak, juga menginspirasi sebanyak mungkin manusia
agar mengikuti langkah suksesnya. Dia
juga terlibat dalam aktivitas politik agar syariah Islam bisa tegak di negeri
ini, agar tak cuma iklim bisnis semakin kondusif, tetapi juga konsumen makin
cerdas, terlindungi serta meraih berbagai kemuliaan. Pandangannya juga tak hanya berhenti di batas
negara, tetapi mendunia. Islam sedari
awal adalah sebuah ajaran global untuk rahmat seluruh alam. Dan untuk itulah, dia terlibat dalam sebuah
perjuangan yang ideologis untuk menegakkan Khilafah. Inilah pengusaha muslim yang pantas mendapat
7 bintang “7-Stars-preneur”. Semoga Anda
salah satu di antara merreka!
Posted in
Ekonomi dan Bisnis, Islam, Pendidikan, Spiritual | No Comments » | Read more..
PUISI
PENGUSAHA: Karena Aku Seorang Pengusaha
Tuesday,
January 24th, 2012
Karena Aku
Seorang Pengusaha…
Ketika orang
lain baru mulai bekerja, aku sudah menyelesaikan ¼ dari pekerjaanku hari itu.
Tetapi ketika orang lain selesai dengan pekerjaannya, aku baru menyelesaikan ¾
dari pekerjaanku.
Aku bekerja 2
kali lebih banyak dari yang dilakukan orang lain, bukan karena ada yang menyuruh aku melakukannya. Bukan pula karena
aku harus melakukannya, tetapi karena aku memang senang melakukannya.
Ketika akhir
bulan tiba, orang-orang lain yang bekerja umumnya gembira menerima upah dari
pekerjaannya. Akupun gembira, tetapi bukan karena menerima upah dari
pekerjaanku – karena aku masih mampu membayar upah para bekerja.
Ketika segala
sesuatunya tidak berjalan semestinya, orang lain bisa menyalahkan atasannya,
bisa menyalahkan system, bisa menyalahkan pasar, bisa menyalahkan krisis dan
bahkan bisa menyalahkan cuaca. Tidak demikian denganku, the buck stops here –
nobody else to blame, semua masalah menjadi tanggung jawabku – tidak ada orang
lain yang patut disalahkan.
Ketika orang
lain melihat masalah di sekitar mereka, aku melihatnya peluang untuk diatasi.
Ketika orang lain melihat sampah, aku melihatnya bahan baku untuk industri.
Ketika orang
lain sibuk untuk menabung kelebihan uang mereka, aku juga selalu sibuk untuk
mencari solusi bagaimana mendanai berbagai ide usaha. Orang lain mendapat bagi
hasil yang pasti, tidak demikian dengan dana usahaku – tidak ada yang bisa
memberikan jaminan yang pasti.
Di akhir pekan,
di hari liburan – orang lain bisa sepenuhnya istirahat dengan melupakan segala
persoalan pekerjaannya. Tidak demikian denganku, tidak ada waktu untuk berlibur
dari tanggung jawab – aku harus tetap siaga dimanapun aku berada.
Ketika orang
lain berlibur adalah berlibur – tidak ada yang boleh mengganggunya, kadang
aku-pun ber –‘libur’ tetapi bukan untuk berlibur – aku mencari peluang
dengannya.
Di akhir malam,
ketika orang lain berdoa untuk mendapatkan pekerjaan, jabatan yang baik dan
karir yang cemerlang nanti. Akupun berdoa untuk mampu menjaga amanah, untuk
diberi dan dipertemukan dengan orang-orang yang jujur – adil – dan hati-hati
agar tidak ada rasa bimbang di hati.
Orang lain akan
pensiun pada waktunya, menikmati hari tua dengan dana pensiunnya atau dengan
tunjangan hari tuanya. Tidak denganku, usia tidak menghalangiku untuk tetap
bekerja, dana pensiun dan tunjangan hari tua-ku telah habis ketika aku
membutuhkan modal usaha.
Ketika
istri-istri orang lain sibuk mengelola penghasilan para suami mereka,
istriku-pun sibuk – bukan untuk mengelola penghasilanku, tetapi untuk ikut
berusaha dan menjaga agar orang lain tetap bisa bekerja.
Ketika
anak-anak orang lain mendapatkan jatah uang saku bulanannya, anak-anakku harus
bekerja untuk memperoleh uang sakunya. Bagi anak-anakku, uang saku bukan
something to be given (sesuatu yang harus diberikan) kepada mereka, tetapi
something to be earned (sesuatu yang harus diusahakan) oleh mereka.
Satu demi satu
usaha terus aku rintis, bukan karena aku ingin terus bertambah kaya – karena
memang ternyata tidak semuanya berbuah hasil. Tetapi karena aku memang senang
melakukannya, untuk tetap bisa berbuat adil.
Aku tahu
domainku hanya untuk berusaha dan bekerja dengan senang, masalah hasil adalah
domain dan kuasa dari Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Aku hanyalah
pelaku, Dia-lah Sang Penentu.
Karenanya,
tidak patut aku berbangga dengan hasil usaha, tetapi syukurku yang terus aku
panjatkan atas kesempatan yang telah diberikanNya kepadaku untuk tetap bisa berusaha. Karena aku seorang
pengusaha, tugasku hanya berusaha …
(sumber:
http://www.geraidinar.com/index.php?option=com_content&view=article&id=827:
karena-aku-seorang-pengusaha&catid=34:
enterpreneurship&Itemid=86&utm_source=twitterfeed&utm_medium=facebook)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar